Kumbili Pandeglang: Permata Pangan Lokal yang Terlupakan dalam Strategi Swasembada

Kumbili Pandeglang

Oleh: Kiki Rizky Apriani

Di tengah gempuran ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai sumber karbohidrat utama, Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan plasma nutfah umbi-umbian yang melimpah. Salah satunya yang berpotensial dan mulai mendapat perhatian, khususnya di Provinsi Banten, adalah Kumbili (Dioscorea esculenta L.) aksesi Pandeglang. Pemanfaatan kumbili ini bukan lagi sekedar nostalgia pangan masa lalu, melainkan langkah strategis untuk mewujudkan diversifikasi pangan dan mendukung swasembada pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Kumbili Sebagai Solusi Gizi Lokal. Kumbili, atau yang sering disebut gembili, merupakan umbi-umbian yang kaya akan karbohidrat sebesar 27-37%. Berdasarkan hasil penelitian, kumbili memiliki kandungan energi, serat, dan protein yang bervariasi, serta mampu menghasilkan rendemen tepung pati yang cukup tinggi. Berbeda dengan beras, kumbili memiliki indeks glemik yang relatif lebih aman, menjadikannya alternatif pangan fungsional, terutama bagi masyarakat yang memperhatikan pola makan sehat.

Kabupaten Pandeglang, sebagai salah satu lumbung pangan di Provinsi Banten, memiliki aksesi (varian lokal) kumbili yang melimpah, terutama di wilayah Kecamatan Menes. Pemanfaatan kumbili lokal ini berarti kita memanfaatkan keunggulan spesifik lokasi. Kumbili sangat mudah dibudidayakan, tidak memerlukan perawatan intensif, dan tahan terhadap beberapa hama lokal dibandingkan tanaman pangan lainnya.

Strategi swasembada pangan nasional seringkali terfokus pada peningkatan produksi padi. Padahal, ketahanan pangan sejati tercapai ketika masyarakat memiliki akses terhadap keberagaman pangan. Diversifikasi pangan dengan berbasis pangan lokal dapat menggeser ketergantungan yang terlalu tinggi pada beras sebagai sumber karbohodrat tunggal.

Dengan mengolah kumbili menjadi tepung, pati, atau diolah langsung (rebus/bakar), bisa menciptakan pilihan makanan pokok baru yang bergizi. Ini secara langsung memperkuat ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga dan desa.

Meskipun potensinya besar, pemanfaatan kumbili masih dihadapkan pada tantangan  pengolahan pasca panen dan citra “pangan tradisional” yang perlu ditingkatkan diantaranya: 1. Industrialisasi pangan lokal, yang mana pemerintah Kabupaten Pandeglang perlu mendorong pengembangan usaha pengolahan pangan lokal melalui UKMKM untuk menciptakan produk olahan kumbili yang modern, seperti mie, kerupuk atau tepung siap pakai. 2. Optimalisasi aksesi lokal, berupa pengembangan usahatani kumbili perlu fokus pada peningkatan produktivitas aksesi unggul khas Pandeglang. 3. Edukasi dan promosi, dengan mengubah pola pikir masyarakat bahwa pangan lokal seperti kumbili adalah pangan bergengsi, kaya gizi, dan berdampak positif bagi ekonomi lokal.

Pemanfaatan kumbili aksesi Pandeglang adalah langkah nyata dari lokal untuk nasional. Swasembada pangan tidak bisa hanya bertumpu pada satu jenis pangan. Dengan memaksimalkan potensi kumbili, kita tidak hanya menyelamatkan plasma nutfah asli, tetapi juga membangun kemandirian pangan yang berakar pada kearifan lokal. Sudah waktunya kumbili naik kelas dari sekadar umbi sampingan menjadi primadona pangan lokal.

Scroll to Top